Klinikita Kalipancur Klinikita Tembalang Klinikita Kedungmundu
Status YM Status YM Status YM

Demam dan Kejang Pada Anak

Rabu, 18 Maret 2009 05:01:04 - oleh : doktermoez

Demam dan Kejang pada Anak.

oleh dr.Maulana AS dari berbagai sumber

Secara sederhana, demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas normal, meskipun tak semua kenaikan suhu disebut sebagai demam. Dan kenaikan suhu tubuh merupakan bagian dari reaksi biologis kompleks,yang diatur dan dikontrol oleh susunan saraf pusat. Demam sendiri merupakan gambaran yang karakteristik dari kenaikan suhu oleh karena berbagai penyakit infeksi dan noninfeksi, sehingga perlu dibedakan dari kenaikan suhu oleh karena stres demam dan penyakit demam

Demam adalah keluhan pada anak yang paling sering dijumpai, sekitar 10-30% dari semua keluhan yang diketemukan pada instalasi gawat darurat di rumah sakit atau dalam praktek dokter sehari-hari. Sampai usia 2 tahun rata rata anak menderita demam sekitar empat sampai enam kali serangan. Sebagai manifestasi klinis, maka demam terjadi pada sebagian besar penyakit infeksi yang ringan dan serius, dari demam saja tak dapat dipakai untuk memprediksi beratnya penyakit. Memang sebagian besar kejadian demam pada anak mudah didiagnosa, namun telah diketahui juga demam pada kelompok yang beresiko tinggi, untuk diagnosa memerlukan evaluasi lebih ekstensif.

Suhu tak selalu tetap dalam sehari,ada variasi naik dan turun berkisar 0.50C. Olah raga, pakaian berlapis lapis, mandi air panas, udara panas, dapat meningkatkan suhu sekitar 1-1.50C. Tumbuh gigi juga bisa meningkatkan suhu namun tak lebih dari 38.40C.  Pada usia neonatus, bayi, dan anak kecil suhu lebih tinggi daripada anak besar dan dewasa, karena punya permukaan tubuh lebih luas dan metabolisme lebih tinggi. Penyakit dengan demam suhu bisa naik dan turun, meskipun biasanya turunnya tak dapat sampai normal. Suhu diatas 38.00C per rektal atau diatas 37.50C secara aksiler / diketiak , dianggap sebagai  suhu yang abnormal, dan dipakai batas suhu dikatakan  sebagai demam. Dan batas suhu yang memerlukan evaluasi lebih lanjut, pada usia 3 bulan sampai 3 tahun adalah 39.00 C, sedang kurang 3 bulan 38.00C

Demam merupakan bagian dari respon inflamasi dan ada kaitan  dalam melawan infeksi, dalam keadaan keadaan tertentu demam bisa menguntungkan bisa juga merugikan, sehingga tetap ada dua pendapat demam perlu dan tak perlu diturunkan. Alasan mengapa deman  tak perlu diturunkan, oleh karena efek samping pemberian antipiretik/anti panas  lebih banyak, penurunan suhu bisa mengaburkan diagnosa dan prognosa (perkiraan kesembuhan), serta diketahui bahwa sebagian besar demam berlangsung sebentar dan tak berbahaya.Yang penting demam bisa bermanfaat sebagai pertahanan tubuh. Pada keadaan demam pertumbuhan beberapa bakteria merugikan dan virus mengalami gangguan. Dalam penelitian demam dibawah suhu 400C dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan virus tetapi demam diatas suhu 400C akan dapat mengganggu fungsi organ sehingga dapat meningkatkan angka kematian.

Sedang alasan demam perlu diturunkan oleh karena merugikan. Demam sering kali menimbulkan rasa tak nyaman dan meningkatkan kebutuhan sistim  respirasi dan kardiovaskuler. Hal itu disebabkan karena demam mempunyai kaitan dengan meningkatnya metabolisme, konsumsi oksigen, dan produksi CO2. Bagi anak normal, hanya  sedikit atau tak akan membawa akibat, namun pada anak dengan renjatan/ keadaan syok maupun anak dengan gangguan paru dan jantung akan berakibat menurunkan fungsi pertahanan tubuh.

            Namun selama panas tak lebih dari 41.7 0C kerusakan otak tak terjadi,dan kebanyakan pada penyakit  infeksi suhu jarang mencapai 41.10C. Apabila lebih dari 41.10C umumnya sebabnya tak ada kaitan / berhubungan dengan penyakit infeksi Jadi,sebagian besar bukti mengarahkan bahwa panas merupakan respon adaptasi tubuh yang terapinya hanya pada keadaan yang selektif dan tertentu saja.

            Suhu tubuh yang tinggi dapat menimbulkan serangan kejang. Tetapi tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejadian telah terjadi pada suhu 380C sedangkan pada anak dengan kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.

            Ada 5 Faktor yang mempengaruhi kejang selain oleh karena meningkatnya suhu tubuh, faktor - faktor lain tersebut adalah :

1.    Umur

a.    Kurang lebih 3% dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah mengalami kejang demam.

b.    Jarang terjadi pada anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun.

c.    Insiden tertinggi didapatkan pada umur 2 tahun dan menurun setelah berumur 4 tahun.

Hal ini mungkin disebabkan adanya kenaikan dari ambang kejang sesuai dengan bertambahnya umur.

d.    Serangan pertama biasanya terjadi dalam 2 tahun pertama dan kemudian menurun dengan bertambahnya umur.

2.    Jenis kelamin

Kejang demam lebih sering didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 2:1. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena pada wanita didapatkan kematangan otak yang lebih cepat dibanding laki-laki.

3.    Suhu badan

Adanya kenaikan suhu badan merupakan suatu syarat untuk terjadinya kejang demam. Tingginya suhu badan pada saat timbulnya serangan merupakan nilai ambang kejang. Ambang kejang berbeda-beda untuk setiap anak, berkisar antara 38.30C - 41.40C.

Adanya perbedaan ambang kejang ini dapat menerangkan mengapa pada seseorang anak baru timbul kejang sesudah suhu meningkat sangat tinggi sedangkan pada anak lainnya kejang sudah timbul walaupun suhu meningkat tidak terlalu tinggi.

4.    Faktor keturunan

Faktor keturunan memegang peranan penting untuk terjadinya kejang demam. Beberapa penulis mendapatkan 25 - 50% daripada pada anak dengan kejang demam mempunyai anggota keluarga yang pernah mengalami kejang demam sekurang-kurangnya sekali.

5.    Penyebab demam

Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. Hal tersebut dapat dimengerti karena infeksi saluran pernafasan merupakan penyakit anak yang paling sering didapatkan.

 

Dari demam saja, sebagai manifestasi klinis dari sebagian besar penyakit infeksi yang ringan maupun yang serius, tak akan dapat dipakai untuk memprediksi berat ringannya penyakit. Namun dengan melakukan observasi pola demam yang karakteristik, akan mendapatkan informasi berguna yang bisa membantu mengarahkan diagnosa. Demam tunggal melonjak mendadak bisa mengarahkan mungkin demam oleh karena obat, tindakan bedah, tranfusi produk darah. Demikian juga beberapa sifat demam seperti intermiten, remiten, kontinyu, relapsing (berulang) atau bipasik dapat membantu mengarahkan ke diagnosa tertentu.

            Diagnosa banding anak dengan demam bisa amat banyak mulai akibat infeksi saluran nafas yang sederhana, sampai keadaan penyakit yang serius seperti bakteriemi, sepsis, meningitis, dan sebagainya. Untuk menetapkan diagnosa dari keadaan demam yang kadang membingungkan, memang diperlukan keahlian dan pengalaman.

 

Pengelolaan Demam dan Kejang Demam

            Ada baiknya untuk mengetahui penatalaksanaan demam sebelum dibawa ke petugas kesehatan. Demam tak selalu harus diberikan pengobatan,apalagi pada anak yang kondisinya baik serta suhunya kurang dari 39.0ºC,dan bila diberi pengobatan suhu tubuh tak perlu harus mencapai normal. Pengobatan sendiri meskipun di USA yang merupakan negara yang maju, sampai sekarang tetap ada, oleh karena ketakutan / "fever phobia" pada orang tua dan pengasuh anak. Dari sebanyak  340 pengasuh anak 89% memberikan antipiretik, karena beranggapan demam berakibat buruk sebanyak 91%, berpendapat merusak otak 21%,dan bisa mematikan 14%.

            Dan sebagian besar bukti mengarahkan bahwa panas merupakan respon adaptasi tubuh yang terapinya hanya pada keadaan yang selektif dan atas indikasi tertentu saja. Demam yang perlu diobati pada keadaan seperti anak dengan :

-         Keadaan Syok,

-         Latar belakang penyakit pada ginjal dan jantung,

-         Demam yang tinggi (hiperpireksia > 40.0ºC),

-         Kemungkinan heat illness,

-         Anak gelisah sehingga perlu membuat rasa nyaman,

-         Bagi yang beresiko terjadi kejang demam.

Selama demam dapat mengakibatkan kejang, logikanya pengobatan demam akan menurunkan kejadian kejang demam. Namun kenyataan kebanyakan kejang demam  terjadi pada awal terjadinya penyakit dengan demam, dan pengobatan tak mungkin menghilangkan secara total

Pengobatan anak demam selain dengan menggunakan obat antipiretik seperti aspirin, asetaminofen/paracetamol ,dan ibuprofen, bisa juga dengan kombinasi tindakan non farmakologis. Pemberian pengobatan dengan obat antipiretik hanya mengurangi keluhan demamnya saja, yang pasti tak akan merubah perjalanan penyakit infeksinya sendiri.

Pemilihan antipiretik dengan acetaminofen, aspirin, ibuprofen, merupakan  obat yang bisa menghambat demam, maka ketiganya adalah obat antipiretika yang efektifitasnya setara. Karena aspirin  acapkali dikaitkan dengan terjadinya sindroma Reye maka penggunaan sebagai antipiretik banyak ditinggalkan, maka pengobatan sekarang cenderung menggunakan acetaminofen serta ibuprofen yang tak pernah ada laporan dengan terjadinya  sindroma Reye.

            Efektifitas Ibuprofen dibandingkan acetaminofen ternyata lebih baik oleh karena efek lebih lama, serta punya khasiat anti radang/ inflamasi. Perlu ditambahkan reaksi inflamasi sebagai bagian reaksi imunologis juga sebagai penyebab kerusakan jaringan serta rasa tidak nyaman penderita dengan demam.

Efek jelek ibuprofen secara umum bisa diterima,yakni terjadinya tukak lambung/ gangguan pencernaan ,perdarahan di daerah lambung dan usus/gastrointestinal, mengurangi aliran darah ke ginjal, dan mengganggu fungsi hati akan  lebih sering terjadi dibandingkan acetaminofen. Secara nyata pemberian dosis terapi acetaminofen secara tepat, bebas dari efek samping. Namun jika overdosis keduanya bisa berakibat fatal. Kematian dari over dosis acetaminofen karena rusak pada hati dan ginjal ,sedang kematian over dosis ibuprofen dan aspirin, diakibatkan oleh gangguan pada jaringan syaraf dan terjadi apneu/ tidak bernapas karena saraf pernafasan rusak. Tak ada data keamanan serta efektifitas dari terapi kombinasi  acetaminofen dengan ibuprofen, karena secara teoritis beresiko terjadi jejas renal (renal injury) sehingga ada indikasi jangan diberikan.     Dari toksisitas yang diakibatkan, nampaknya pilihan sebagai pengobatan rutin adalah acetaminofen/ paracetamol.

Direkomendasikan pemberian antipiretik dimulai dengan acetaminophen/ paracetamol adalah 10-15 mg/kg Berat Badan setiap 4-6 jam. Bila panas tetap naik, beralasan jika pengobatan digantikan dengan ibuprofen 10 mg/kg Berat Badan setiap 6-8 jam.

Selain diberikan antipiretik untuk mengurangi demam dapat diberikan pendinginan eksternal seperti penyekaan dengan air hangat-hangat kuku berguna dalam menurunkan suhu tubuh, daripada penggunaan antipiretik saja, dan sebaiknya dilakukan setelah 30 menit pemberian acetaminofen. Meskipun secara kombinasi penyekaan dan antipiretik, lebih cepat menurunankan panas, pada anak panas yang  masih nampak baik, dapat menambah ketidak nyamanan. Jangan digunakan alkohol untuk menyeka, karena dapat menguap dan terhirup ,serta dapat menembus kulit, sehingga terjadi efek toksik pada susunan saraf pusat.

            Tindakan lain seperti  menambah jumlah cairan yang masuk tubuh, dengan menganjurkan banyak minum, serta jangan membungkus anak dengan pakaian yang berlapis. Alasannya pada anak demam akan kehilangan cairan lebih banyak, karena terjadi banyak berkeringat, dan kehilangan lewat saluran nafas karena frekwensi nafas bertambah.

Hal penting perlu digaris bawahi, bahwa antipiretik hanya digunakan sebagai pengobatan simtomatik/ mengurangi gejala demam saja. Selama sebagian besar penyakit demam pada anak adalah penyakit virus yang sembuh dengan sendirinya, pemberian antipiretik berkepanjangan tak diperlukan. Jika dalam waktu 4 sampai 5 hari panas tetap tinggi, atau terjadi atau muncul gejala yang sifanya lokal, harus segera dievaluasi dengan membawa kepetugas kesehatan terdekat.

            Sedangkan untuk kejang karena demam  Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau orang lain di rumah adalah diazepam rektal / stesolid lewat dubur. Dosis diazepam rektal adalah 0,5 - 0,75 mg/kg Berat Badan atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak di bawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun. Kejang yang belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang, dianjurkan ke rumah sakit.

 

kirim ke teman | versi cetak

Ingin Berlangganan Artikel kesehatan
Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Berita "Kesehatan" Lainnya